Social Icons


SANGGUPKAH AKU MENJAWAB PERTANYAAN MALAIKAT DI ALAM KUBUR

Sanggupkah aku menghadapi itu ? Saat di mana aku didudukkan di lubang yang gelap, kemudian datanglah kepada ku dua malaikat mengajukan pertanyaan: Siapa Rabb-mu, apa agamamu, dan siapa nabimu ?


ALAM KUBUR
  

Sanggupkah aku menjawabnya ? …

Sungguh, saat itu akan datang sebagaimana telah sering aku saksikan ia mendatangi orang lain, teman-temanku, tetanggaku, bahkan orang tua atau kerabatku. Sungguh, saat itu tak mungkin kuduga sebagaimana juga mereka tak pernah menduga didatangi oleh nya. Sungguh dia akan menjemput aku pergi ke tempat yang tak mampu aku bayangkan, tempat yang tak pernah kembali lagi mereka yang pergi ke sana, tempat yang di sana aku akan dihadapkan dengan pertanyaan.

Sungguh, semua itu benar adanya. Tak ada alasan bagi ku untuk tidak percaya hal itu bakal terjadi, sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk mengingkari adanya Al Khaliq. Juga sebagaimana tak ada alasan bagi ku untuk memungkiri adanya getaran kegelisahan dalam bathinku tatkala aku melakukan perbuatan yang fitrahku mengenalnya sebagai dosa. Sanggupkah aku menjawabnya ?


Siksa Kubur

Cukupkah kujawab : Rabb-ku adalah ALLAH ? Semudah itukah menghadapi fitnah qubur ? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanamkan dalam jiwaku keyakinan akan adanya Engkau, tertanam pula keyakinan ,bahwa tidaklah segala sesuatu itu ada dan terjadi dengan sendirinya serta tanpa maksud dan tujuan.

Lantas bolehkah terlintas dalam benakku : “Mustahil aku akan tersesat dan terjatuh ke dalam kekufuran.” ? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Keberhasilan yang aku peroleh adalah semata-mata hasil prestasiku.” ? Bolehkah aku beranggapan : “Bahwa tanda keridhoan-Mu adalah dengan terjadinya apa yang terjadi atau berlakunya apa yang hendak aku lakukan.” ?

Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam dalam batinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan kekuasaan-Mu, bertentangan dengan hak-Mu untuk diibadahi, serta bertentangan dengan kemuliaan nama-nama dan sifat-sifat-Mu. Maka, sudahkah aku mengenal segala kekuasan-Mu dan mengakui keesaan-Mu dalam hal mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta ini?

Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang apa agamaku? Cukupkah kujawab: Agamaku Islam? Semudah itukah menghadapi fitnah qubur? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam di dalam jiwaku keyakinan akan kesempurnaan agama ini, tertanam pula keyakinan bahwa agama ini disampaikan kepada manusia agar mereka memperoleh kemudahan dan kebahagiaan hidup di dunia

Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: ”Agama ini tidak realistis, kurang membumi.” ? Bolehkah terucap lewat lisanku: “Bolehkah aku beranggapan: “Semua agama itu baik.” ? Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Alangkah enaknya menjadi orang-orang kafir di muka bumi ini, alangkah kunonya agama ini, dan alangkah sempit serta terbatasnya ruang ibadah yang tersedia di sana.” Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. Namun mengapa sering bathin ini diam saja tidak memperjuangkan dan menyebarkan Agama (Dien)-Nya ? 

Ya, ALLAH. Kalau bukan karena hidayah-Mu, sungguh akan tertanam di dalam bathinku, terucap dari lisanku, dan terwujud lewat perbuatanku segala yang bertentangan dengan agama yang mulia ini. 
Sanggupkah aku menjawabnya ? 

Kemudian, apa yang akan aku katakan ketika ditanya tentang siapa nabiku? Cukupkah kujawab: Nabiku Muhammad ? Semudah itukah fitnah qubur ? Rasanya tidak. Tidak akan semudah itu. Sebagaimana telah tertanam keyakinan dalam bathinku tentang kemuliaan akhlaqnya, sifat amanahnya, dan kejujurannya, tertanam pula keyakinan bahwa dialah ShallAllahu ‘Alaihi Wasallam teladan terbaik bagi umat manusia.

Ia Sebagai teladan, bapak yang baik, pemimpin yang baik, pedagang yang baik, jenderal yang baik, semuanya baik sesuai Syariat yang dibawanya.

Lantas bolehkah terlintas dalam benakku: “Ada jalan untuk mendekatkan diri kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala selain dari yang telah dicontohkan oleh beliau ShallAllahu ‘Alaihi Wasallam” ?

Sungguh tak mungkin aku mengatakan: “Rasulullah ShallAllahu ‘Alaihi Wasallam lupa menyampaikan ini dan itu. Rasulullah ShallAllahu ‘Alaihi Wasallam sengaja menyembunyikan risalah, atau Rasulullah ShallAllahu ‘Alaihi Wasallam tidak mengetahui apa yang baik bagi umatnya. Sungguh tak mungkin aku mengatakannya. 

Sungguh, aku akan berhadapan dengan pertanyaan yang jawabnya tak cukup di lisan, tetapi dari dalam keyakinan dan dibuktikan oleh perbuatan. Bukan hasil dari menghafal, tetapi dari beramal.Tak ada yang sanggup menuntun aku untuk menjawabnya kelak kecuali Engkau, Ya Allah. Aku tahu itu dan aku yakin, sebagaimana telah Engkau janjikan:

يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ


“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan UCAPAN yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat…”(Ibrahim: 27)

Biasakanlah berlisan lurus sesuai dengan Syariat-Nya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam sanadnya, dari Barro’ bin ‘Azib yang berkata,”Beliau (Rosululloh) e bersabda,”Bila seorang hamba mukmin berada di ujung dunia menuju gerbang akhirat, malaikat dari langit turun kepadanya. Wajahnya putih bersih, secerah mentari. Mereka membawa kafan dan balsam yang berasal dari surga. Mereka duduk sangat dekat dengan hamba itu, dan mengucapkan salam. Lalu duduk di atas kepalanya dan berkata,”Wahai jiwa yang suci, keluarlah menuju ampunan dan keridloan Alloh.” Maka ruhnya pun keluar sebagaimana aliran air yang deras. Lalu malaikat itu mengambil ruhnya.

Tetapi, ia tak hanya sekejap memegang ruh tersebut. Selanjutnya ditaruh di dalam kafan. Dari padanya keluar wewangian paling harum. Setelah diletakkan di bumi, mereka mengangkat ruh tersebut ke atas. Setiap malaikat yang dilalui pasti bertanya,”Ruh siapa ini ?” Mereka menjawab,”Fulan bin Fulan”, dengan menye-but nama paling bagus yang pernah dipakai di dunia. Begitulah, sampai mereka tiba di batas akhir langit bu-mi. Mereka meminta langit berikutnya dibuka, dan dika-bulkan. Demikian sampai pada langit berikutnya hing-ga sampai pada langit ke tujuh. Alloh berfirman,”Tulis-lah catatan hamba-Ku ini dalam ‘illiyyin (tempat yang tinggi), dan kembalikanlah ia ke bumi. Sesungguhnya Aku menciptakannya dari bumi (tanah) dan akan Aku kembalikan lagi ke bumi (tanah). Dan dari tanah pula akan Aku keluarkan mereka sekali lagi.

Ruh itupun dikembalikan ke dunia. Lalu datanglah 2 malaikat yang duduk di hadapannya, ia bertanya,”Si-apa Robb (Tuhan)mu?” Ia menjawab,”Robb-ku adalah Alloh.” “Apa agamamu?” “Agamaku Islam”, jawabnya. Dua malaikat melanjutkan pertanyaannya,”Siapakah lelaki ini, yang pernah diutus kepadamu?” Ia menjawab,”Ia adalah Rosululloh e.” “Dari mana kamu tahu?” tanya malaikat. “Aku membaca kitab Alloh, lalu beriman dan membenarkannya,” jawab hamba tadi. Lalu terdengar seruan dari langit bahwa,”Benarlah hambaku ini, berikan kasur dan pakaian dari surga, serta bukakan pintu surga.”



ALAM KUBUR
"Rasulullah saw bersabda: Kubur adalah tempat awal bagi akhirat. Jika seseorang selamat dalam kubur maka harapan baik baginya.

Setelah itu, dilapangkanlah kuburnya sejauh mata memandang. Datang kepadanya seseorang yang ber-wajah tampan dengan baju yang bagus dan aroma yang yang harum. Orang itu berkata,”Berbahagialah dengan kemudahan yang diberikan kepadamu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu.” Ia berkata kepada orang itu,”Siapa kamu? Wajahmu tampak bagus.” Dijawab,”Aku amal sholihmu. Engkau selalu bersegera mentaati Alloh dan enggan bermaksiyat kepada-Nya. Maka Alloh mengganjarmu dengan kebaikan.”

Semoga Allah SWT meneguhkan keimanan danKeislaman kita semua beserta keluarga, dan menyelamatkan kita semua dari fitnah kubur, Aamiin Yaa Robbal 'alamiin



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

SPACE IKLAN

SPACE IKLAN

SPACE IKLAN

Disewakan Banner iklan
ukuran 250x250 mm


Hubungi :
Pengurus Majlis Ta'lim
Masjid Babul Jannah
Gampoeng Suak Indrapuri
Kec.Johan Pahlawan
Kab.Aceh Barat
 
Loading...
Please wait...